sponsor

sponsor

Slider

LINTAS NANGGROE

LINTAS ACEH SELATAN

INFO GURU DAN CPNS

Pasang Iklan Murah Hanya Disini !

INFO PENDIDIKAN

LINTAS ARENA

R A G A M

INFO KAMPUS

Gallery

» » Pelaminan Adat Aceh Selatan Berbeda Dengan Daerah Lain

Pelaminan adat Aceh Selatan | foto:analisa
KLUETMEDIA | BANDA ACEH - Selama perhelatan Pekan Kebudayaan Aceh berlangsung, pengunjung dapat menyaksikan dan sekaligus memperdalam wawasan tentang khazanah budaya dan adat yang berlaku berbeda di Aceh.

Sebut saja, pelaminan adat Aceh versi Aceh Selatan yang ditampilkan kontingen PKA VI di anjungan kabupaten itu yang berbentuk rumoh adat Aceh Selatan bercorak rumah panggung hampir mirip dengan aslinya. Di ruang utama rumah adat itu, terdapat satu postur pelaminan adat Aceh Selatan yang tampak berbeda dengan pelaminana adat Aceh di kabupaten lainnya.

Rumah adat Aceh Selatan di kompleks  Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh itu memperagakan pelaminan adat Aceh Selatan yang digunakan untuk pelaminan perkawinan sepasang remaja dengan nuansa daerah dan kehidupan agamis. Pengunjung PKA VI yang datang dari seluruh penjuru Aceh dan bahkan dari luar daerah, bisa melihat dan mendapatkan pengetahuan dari corak pelaminan itu yang digambarkan sebagai kaya makna.

Teuku Laksamana, salah seorang pemandu yang juga keturunan raja di Aceh Selatan menerangkan, setiap potongan hiasan yang terpampang pada  pelaminan memiliki makna yang luar biasa. Dimulai dari pondasi yang berbentuk segi empat sebanyak lima bagian yang melambangkan salat wajib 5 waktu. Sedangkan 4 sisi lainnya,  melambangkan komponen masyarakat terdiri dari sisi pertama penguasa (raja), kedua panglima atau cerdik pandai, ketiga keberadaan ulama dan sisi keempat adalah rakyat.

Di atas pondasi, ujarnya, terdapat 9 motif yang dinamakan meracu berbentuk segi tiga yang yang disusun berlawanan. Bentuk segi tiga di sini, memaknakan, peta wilayah Aceh yang lhee sago (tiga sudut/segi). Sedangkan jumlahnya, 9 yang menerangkan jumlah kerajaan besar dan kecil di Aceh pada zaman dahulu yang dikuatkan dengan cap sekureung (stempel 9).

Dijelaskannya, meracu diapit pula  dengan 17 kipas yang terletak di kiri dan kanan pelamiman yang  melambangkan jumlah rakaat salat wajib bagi umat Islam sesuai dengan Alquran dan hadits Rasulullah Muhammad SAW.

Kemudian susunan bantal gadang (bantal  besar) yang terletak di samping kipas melambangkan pimpinan/raja yang dikawal pengawalnya, dengan  8 buah buntun kiri dan kanan pelaminan mengartikan 8 lapis langit dan payung kerajaan.

‘Beberapa pemaknaan inilah yang membedakan pelaminan adat Aceh Selatan dengan Aceh lainnya, sehingga memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung PKA,” kata Laksamana.

Sementara itu, pada ruang anjungan lainnya terdapat pula  pelaminan adat perkawinan suku Kluet asli berbahasa Kluet yang umumnya berada di pedalaman Aceh Selatan.

Pelaminan adat perkawinan itu lazimnya disuguhkan pada pesta perkawinan remaja (bukan perkawinan janda atau duda), di wilayah Kluet yakni di Kluet Timur,  Kluet Utara dan Kluet Tengah bagian pedalamannya.

Pelaminan ini, menurut keterangan sudah dimodifikasi dengan adat Aceh dan Aneuk Jamee karena wilayah Kluet Raya (Kluet Selatan, Kluet Utara,  Kluet Timur, Kluet Tengah dan Pasie Raja), terdapat tiga suku dengan adat yang bernuansa berbeda yakni Kluet asli, Aneuk Jamee dan Aceh.

Namun, dalam dinamika dan keseharian kehidupan sosial dan kemasyarakatan, ketiga budaya itu berbaur dan saling melengkapi apalagi suku (adat) Kluet yang sifatnya terbuka dan mudah menerima perbedaan. Dengan demikian, adat pelaminan suku Kluet itu, dapat mengadopsi dan memodif dirinya menjadi sebuah kekayaan yang beragam dan inklusif, kecuali pada tempat-tempat tertentu di gampong atau desa bahasa Kluet tidak terpengaruh atau dapat dipengaruhi oleh bahasa Aceh dan bahasa Aneuk Jamee.

Kawasan itu yakni Payadapur, Durian Kawan, Kampung Alai, Gampong Sapik, Lawesawah dan Lawebuloh Didi (Kluet Timur). Sedangkan di Kluet Utara hanya Gampong Paya yang  tidak terpengaruh atau mempengaruhi bahasa asli Kluet (Kluwat).

Pelaminan adat Aceh sub etnis Kluet yang memadukan budaya etnis Aceh dan Aneuk Jamee justeru menambah daya tarik tersendiri bagi suguhan pelaminan  adat perkawinan tersebut.

Menarik  memang, sehingga bagi sebagian pengunjung mengabadikan pelaminan yang ada di anjungan Aceh Selatan tersebut baik dalam bentuk foto bareng, maupun dalam bentuk vidio.

Pelaminan adat perkawinan di anjungan Aceh Selatan, digambarkan juga oleh sebagian pengunjung sebagai khazanah Aceh dengan budaya yang beragam penuh dengan permaknaan sosial dan kehidupan masyarakanya yang berbudaya, beradat  dan beragama (Islami). (de/anl)

Tulislah Pendapatmu tentang Artikel diatas.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama