sponsor

sponsor

Slider

LINTAS NANGGROE

LINTAS ACEH SELATAN

INFO GURU DAN CPNS

Pasang Iklan Murah Hanya Disini !

INFO PENDIDIKAN

LINTAS ARENA

R A G A M

INFO KAMPUS

Gallery

Penambang Emas Tewas Tertimbun Longsor di Manggamat

By: Redaksi KluetMedia on Kamis, Juli 25, 2013 / comment : 0

ilustrasi
KLUET TENGAH - Seorang penambang emas tradisional bernama Karman (25), warga Gampong Lhok Sialang, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan, meninggal dunia akibat tertimbun longsor saat mengambil air di sungai dalam kawasan tambang emas tradisional dikawasan Simpang Tiga Manggamat, Aceh Selatan, Senin (22/7) pagi.

Korban ditemukan di bawah material longsor dalam keadaan tak lagi bernyawa pada keesokan harinya (23/7) malam dan pada rabu kemarin jenazah dikebumikan di kampung asalnya, Lhok Sialang.

Informasi yang diperoleh dari ketua satgas Search and Rescue (SAR) Kabupaten Aceh Selatan, May Fendri SE yang membeberkan kronologis kejadian kepada wartawan menyebutkan, Awalnya korban hendak menciduk air di sebuah alur sungai di kawasan yang tak jauh dari lokasi tambang. Tanpa jelas penyebabnya, tiba - tiba tebing gunung tersebut longsor dan langsung menimbun korban.

Selain Tim SAR, yang terlibat dalam pencarian dan evakuasi korban adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan masyarakat sekitar. Untuk menemukan jasad korban yang tertimbun longsor diperlukan waktu dua hari dengan mengerahkan dua unit alat berat. (mz)

Mapala Aceh Salurkan Bantuan Untuk Korban Banjir Menggamat

By: Redaksi KluetMedia on Kamis, Mei 23, 2013 / comment : 0 ,

TAPAKTUAN – Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Aceh turut memberikan bantuan kepada masyarakat korban banjir di Desa Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah, Kabupaten Aceh Selatan.

Bantuan yang berasal dari Mapala Aceh itu diserahkan oleh Masyitah sebagai perwakilan dari beberapa organisasi Mapala yang berada di Banda Aceh dan Aceh Besar, Rabu (22/5/2013) sekitar pukul 14:15 WIB.

Bantuan yang diberikan kepada masyarakat korban banjir melalui posko bencana alam di desa tersebut berupa beras, mie, ikan kaleng, kerupuk dan garam yang diterima langsung oleh ketua posko.

Usdi Warman, selaku ketua posko Kecamatan Kluet Tengah,  mengatakan bantuan yang telah diterima ini akan dibagikan langsung kepada warga yang merupakan korban banjir.

“Bantuan-bantuan yang sudah kita terima akan kita bagikan hari ini  kepada warga di 13 desa yang terkena banjir di Kecamatan Kluet Tengah,” ujarnya.

Ke-13 desa yang di maksud yaitu Desa Jambur Papan, Malaka, Koto Indarung, Siurau-urai, Sarah Baru, Koto, Lawe Melang, Kampung Sawah, Kampung Padang, Pulo Air, Mersak, Simpang Dua dan Simpang Tiga.

Saat diitanyai apakah sudah ada bantuan dari pihak Kecamatan Kluet Tengah, ia hanya tersenyum dan mengatakan hingga saat ini belum ada bantuan yang diterima.

Pun demikian, ia mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan untuk meringankan beban masyarakat akibat bencana alam yang menimpa daerah mereka. (eva/atjehlink)

Warga 13 Desa Di Kluet Tengah Masih Butuhkan Bantuan Pasca Banjir

By: Redaksi KluetMedia on Sabtu, Mei 18, 2013 / comment : 0 ,

Ilustr gbr : rumah rusak akibat banjir
KLUET TENGAH - Warga Kluet Tengah hingga saat ini masih membutuhkan bantuan sembako untuk korban bencana banjir dari donatur dan pemerintah.

Hal ini disampaikan oleh Mauliza, Koordinator Tagana Kluet Tengah melalui jaringan telepon kepada KluetMedia, Sabtu (18/5). Mauliza menyebutkan bahwa dengan tingkat kerusakan yang disebabkan banjir beberapa hari yang lalu, masyarakat Menggamat kecamatan Kluet Tengah masih belum bisa untuk beraktivitas seperti biasanya karena stok sembako sangat minim.

Apalagi musibah banjir tersebut juga merusak lahan pertanian dan perkebunan warga juga hewan ternak pun banyak yang mati sehingga untuk saat ini warga masih bergantung pada bantuan – bantuan yang masuk.

Sebelumnya, bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Aceh Selatan sudah disalurkan ke Kecamatan Kluet Tengah dengan rincian beras sebanyak 3 ton dan mie instan sekitar 10 kotak. Kemudian bantuan dari Kluet Aceh yang juga sudah disalurkan kepada korban banjir. Namun menurut Mauliza, bila dibandingkan dengan jumlah warga korban bencana yang tersebar di 13 desa yang jumlahnya hampir 5 ribuan jiwa, bantuan yang sudah disalurkan itu masih tidak mencukupi. 

“ Korban banjir di Kluet Tengah merata di 13 desa dan kerusakan terparah juga ada di wilayah Kluet Tengah, Bantuan dari pemerintah masih belum bisa memenuhi kebutuhan hidup warga pasca banjir. Seharusnya kita disini mendapat porsi yang lebih “. Ungkap Mauliza kepada KluetMedia.

Atas nama pemuda Kluet Tengah, Mauliza mempertanyakan kenapa penyaluran bantuan tanggap bencana ke kecamatan Kluet Tengah selalu terlambat. Penanganan banjirpun juga demikian sehingga pemerintah terkesan kurang peduli dengan apa yang dirasakan oleh warga Kluet Tengah. Padahal menurutnya, pasca banjir yang lalu akses menuju Menggamat sudah diperbaiki supaya transportasi darat tidak terputus.

“ Kita heran dengan lambannya urusan penanganan banjir oleh Pemda. Padahal akses ke Menggamat sudah diperbaiki dengan harapan bantuan tanggap bencana terhadap warga cepat disalurkan. Namun kenyataannya, tidak seperti yang kami harapkan. Hingga saat ini hanya Pemda dan Kluet Aceh yang memberikan bantuan sementara dikecamatan lain banyak donatur yang sudah menyalurkan bantuannya “. tambahnya.

Walaupun demikian, Mauliza sangat mengharapkan kepada para donatur supaya menyalurkan bantuan sembako untuk warga Kluet Tengah yang saat ini sangat membutuhkan.

Kluet Tengah yang topografinya terletak di daerah perbukitan ini sebenarnya kaya dengan hasil bumi. Namun akibat musibah banjir tempo hari, lahan pertanian dan perkembunan warga hancur total sehingga memerlukan waktu cukup lama untuk bisa normal kembali. (de)

Terkait Bendera, Pertemuan di Makasar Belum Temui Kesepakatan

By: Redaksi KluetMedia on Jumat, Mei 17, 2013 / comment : 0

KLUETMEDIA | NASIONAL - Pertemuan antara tim kecil Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Pusat bahas Bendera Aceh di Makassar belum membuahkan kesepakatan terkait boleh atau tidaknya dalam design yang sudah ditetapkan dalam Qanun No 3 Tahun 2013 itu.

Politisi PKS Aceh, Ghufran Zainal Abidin sebagai Anggota Komisi A DPRA di Makassar, Kamis (16/5/2013) mengatakan terkait perubahan yang diminta Pemerintah Pusat terhadap design Bendera Aceh masih terus dilakukan pertemuan lanjutan.

Ia menjelaskan pertemuan selanjutnya akan dilakukan tanggal 23 Mei di Bogor, Jawa Barat.

Dalam pertemuan di Hotel Aryaduta tadi, tim kecil hanya menyepakati bahwa Pemerintah Pusat akan memfasilitasi pertemuan Pemerintah Aceh dengan KPU dan Bawaslu pada Selasa, 21 Mei mendatang di Jakarta.

Pertemuan bahas Bendera Aceh ini berlangsung pukul 09.15 Witeng. Tim kecil dari Aceh dihadiri oleh Abdullah Saleh, Adnan Beuransyah, Ghufran Zainal Abidin, Yunus Ilyas dan Nurlelawati dari Komisi A DPRA. Kemudian Kepala Biro Hukum Aceh, Edrian SH, Asisten I Pemerintah Aceh, Iskandar A. Gani.

Selanjutnya juga dihadiri oleh tim ahli Gubernur Aceh masing-masing Dr. Rafiq dan Yahya Muadz.

Sedangkan tim kecil dari Pemerintah Pusat dihadiri oleh Dirjen Otda Kemendagri, Djoehermansyah Djohan, Dirjen Kesbangpol, Tanribali Lamo, Dirjen Peraturan Perundang-Undangan Kemenkunham, Wahiduddin Adams.

Plt. Deputy Kelembagaan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Rini Widyantini, Tim Telestra Setwapres RI, Tursandi Alwi, Kepala Biro Hukum Setjend Kemendagri, Zudan Arif Fakhrullah, Dosen Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Irhamsyah Putra dan Direktur Penataan Daerah Otsus dan DPOD Direktorat Jenderal Otda Kemendagri, Boytenjuri.[]
sumber:acehterkini

Walaupun Beresiko, Tim Kesehatan Tiba Di Koto Indarung

By: Redaksi KluetMedia on Selasa, Mei 14, 2013 / comment : 1 ,

KLUET TENGAH - Akibat Sungai Lawe Melang mengalami pasang besar, Senin (13/5), perjalanan tim kesehatan ke gampong Koto Indarung kecamatan Kluet tengah Aceh Selatan sempat terhenti. Siang tadi sekira jam 11.30 WIB, perjalanan tim medis dilanjutkan kembali dengan menggunakan perahu mesin. 

Tim medis yang beranggotakan paramedis dari Puskesmas kecamatan Menggamat tersebut tiba di Desa Koto Indarung dengan selamat setelah melewati perjalanan yang beresiko guna memberikan pelayanan kesehatan bagi warga disana pasca banjir yang terjadi beberapa hari lalu.

Setibanya disana, petugas medis langsung mendirikan posko bencana alam dan melayani keluhan masyarakat setempat terkait gangguan kesehatan yang mereka alami ekses dari banjir yang melanda desa  mereka.

Menurut dokter Novita Sari yang menangani keluhan warga, penyakit yang paling banyak diderita warga adalah batuk, gatal-gatal di kulit seperti kutu air dan lain sebagainya. 

“Keluhan kesehatan masyarakat disini kebanyakan Ispa seperti dermatitis dan myalgia,” terangnya.

Selain penyakit tersebut, masih ada beberapa penyakit lain yang mendominasi kesehatan warga seperti migrain dan penyakit ringan lainnya. Umumnya warga yang mengeluh sakit tersebut tersebut rata-rata berusia 25 hingga 35 tahun, selebihnya balita dan orang tua.

Tim medis yang menangani keluhan warga di desa tersebut terdiri dari seorang dokter dan 4 orang perawat serta dibantu oleh seorang relawan. Kegiatan sosial yang berlangsung hingga sore hari  ini diharapkan dapat membantu masyarakat setempat untuk memulihkan kesehatan mereka pasca banjir. (eva)

Derita Petani Jagung Di Koto Indarung

By: Redaksi KluetMedia on Selasa, Mei 14, 2013 / comment : 0 ,

KLUET TENGAH - Banjir yang melanda sejumlah kecamatan di wilayah Kluet Raya Aceh Selatan, Jumat (10/5) lalu, terus memberikan dampak serius kepada masyarakat yang menjadi korban, Senin (13/5).

Salah satu gampong yang terparah terkena dampak banjir di Kecamatan Kluet Tengah adalah Desa Koto Indarung. Keberadaan gampong yang berada jauh dari pusat kecamatan dan dipisahkan oleh Sungai Lawe Melang itu merupakan gampong terparah yang terendam banjir. Hampir seluruh rumah dan kebun warga di gampong tersebut terendam banjir dengan ketinggian 1 meter lebih.

Warga Koto Indarung yang umumnya berprofesi sebagai petani ini harus benar-benar bersabar karena sebagian besar hasil panen mereka terbawa arus banjir dan terendam lumpur. Tak terkecuali para petani jagung disana, ratusan hektar kebun jagung siap panen milik mereka tak tersisa dibawa banjir.

“Kali ini banjir yang melanda kampung kami memang yang terparah. Seingat saya belum pernah terjadi banjir yang seperti ini,” ungkap seorang petani yang mengaku gagal memanen jagung di kebun yang dulu digarapnya dari tiga sak bibit jagung.

Warga Koto Indarung sangat mengharapkan perhatian dari pemerintah setempat terkait bencana alam yang telah meluluh lantakkan sektor perkebunan yang menjadi urat nadi perekonomian mereka. (eva)

Pasca Banjir, Aktivitas Warga Di Menggamat Kembali Normal

By: Redaksi KluetMedia on Minggu, Mei 12, 2013 / comment : 0 ,

Ilustr : Banjir rendam rumah warga
KLUET TENGAH – Pasca banjir di Menggamat kecamatan Kluet tengah, masyarakat sudah terlihat mulai membersihkan rumah dan pekarangan yang sempat digenangi air. Banjir yang merendam sebahagian kota Menggamat sejak Jum’at malam (10/4) tersebut meninggalkan lumpur dan sampah serta material lainnya.

Informasi yang redaksi dapatkan dari Mauliza, Koordinator tanggap bencana (Tagana)  wilayah Kluet Tengah melalui sambungan seluler menyebutkan bahwa keadaan Menggamat hingga saat ini sudah berangsur normal. Masyarakat yang pada hari sabtu malam sempat mengungsi ke pegunungan sudah kembali dan membersihkan rumah mereka.

“Alhamdulillah, kota menggamat saat ini sudah mulai normal, kegiatan masyarakat pada hari ini membersihkan sisa – sisa banjir dirumah masing – masing dan keadaan cuaca pun sudah cerah, insya Allah tidak ada kendala apa – apa lagi”. kata Mauliza kepada redaksi.

Mauliza juga menyebutkan bahwa pada saat banjir kemaren, terdapat 3 titik terparah yakni di gampong Senurai, Indarung dan Jambo Papan. Masyarakat ketiga gampong tersebut mengungsi ke pegunungan akibat banjir yang menggenangi kampung mereka setinggi 2 meter lebih.

“ Terdapat tiga gampong yang harus mengungsi ke pegunungan karena ketinggian air sudah mencapai 2 meter lebih. Apalagi air tersebut sangat deras namun syukurlah tidak ada korban jiwa”. tambah Mauliza.

Jembatan gantung Hampir roboh

Mauliza juga menginformasikan bahwa jembatan gantung sebagai sarana penghubung masyarakat Lawe Melang ke Koto Indarung  hampir roboh diterjang banjir sehingga warga sangat kesulitan untuk menyeberang. Selain itu lahan pertanian pun rusak parah.

Walaupun banjir sudah surut, warga sangat mengharapkan bantuan dari para donatur karena ketersediaan sembako sudah terendam dan terbawa banjir dan ternak pun banyak yang mati.

“ Hingga sekarang kami belum mendapatkan laporan adanya bantuan yang masuk ke menggamat”. Ungkap Mauliza kepada KluetMedia

Sementara itu akses jalan dari Menggamat ke Kota Fajar sudah membaik, beberapa material longsor sudah dibersihkan oleh alat berat sehingga tranfortasi darat yang semula terputus sudah normal kembali. 

Walaupun dibeberapa titik masih tergenang air namun menurut Mauliza tidak membahayakan pengguna jalan yang melintas.(de)

Tingginya Curah Hujan, Sebahagian Aceh Direndam Banjir

By: Redaksi KluetMedia on Selasa, Mei 07, 2013 / comment : 0

Ilustrasi
BANDA ACEH - Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Aceh sejak Minggu hingga Senin siang mengakibatkan sejumlah sungai meluap.

Akibatnya, sejumlah wilayah di negeri serambi Mekkah itu direndam banjir, di antaranya Kabupaten Pidie Jaya, Nagan Raya, dan Aceh Barat Daya.

“Upaya penanganan darurat masih dilakukan hingga saat ini,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya, Senin (6/5/2013).

Menurutnya, di Kabupaten Pidie Jaya banjir menggenangi lima kecamatan mencakup 30 desa yaitu; Kecamatan Meureudu dua desa (Desa Mesjid Tuha dan Desa Mns Lhok), Kecamatan Meurah Dua tujuh desa (Desa Pante Beureune, Desa Dy Husen, Desa Mns Mancang, Desa Blang Cut, Desa Seunong, Desa Teupin Pukat, Desa Beuringen).

Sementara di Kecamatan Ulim terdapat lima desa (Desa Balee Ulim, Desa Bidok, Desa Tijien, Desa Pantang Cot Baloi, Desa Cot Seutui), Kecamatan Bandar Dua tujuh desa (Desa Alue Keutapang, Desa Babah Krueng, Desa Pohroh, Desa Uteun Bayu, Desa Blang Kuta, Desa Seunong, Desa Drien Bungong)

“Kecamatan jangka Buya sembilan desa: Desa Mns Lueng, Desa Kuta Baroh, Kiran Baroh, Kiran Krueng, Muko Meugiet, Muko jurong, Jurong Binje, Jurong Teungoh, Mns Kumbang,” katanya.

Dia mengatakan, banjir disebabkan oleh luapan empat sungai. Empat sungai itu di antaranya; Krueng Jeulanga di Kecamatan Bandar Dua, Krueng Ulim di Kecamatan Ulim, Krueng Meureudu di Kecamatan Meureudu, Krueng Beuracan di Kecamatan Meureudu.

“Tinggi banjir antara 75 cm-165 cm. Banjir menyebabkan sekitar 14.255 jiwa (2.845 KK) terdampak langsung dari banjir,” katanya.

Sedangkan banjir di Nagan Raya dan Aceh Barat Daya juga merendam puluhan desa. BPBD setempat masih melakukan pendataan dan upaya darurat.
(merdeka)

Petani di Menggamat Harapkan Harga Jual Komoditi Kembali Pulih

By: Redaksi KluetMedia on Minggu, April 07, 2013 / comment : 0 ,

KLUET TENGAH - Harga berbagai komoditas di Kecamatan Kluet Tengah kian terpuruk. Beberapa bulan terakhir harga komoditas seperti buah pinang, kemiri dan coklat semakin menurun, sedangkan harga pala mulai sedikit merangkak naik.

Dari pantauan, di pasar tradisional Manggamat, harga pinang berkisar antara Rp 5-6 ribu per bambu, kemiri Rp 5 ribu per bambu dan biji cokelat berkisar antara  Rp 13-14 ribu per kilogramnya.

Ibu Warni, seorang petani coklat  di Desa Manggamat mengatakan turunnya harga komoditas tersebut terjadi sejak beberapa bulan terakhir. 
“Dengan harga murah seperti sekarang ini sulit sekali bagi kami para petani membiayai hidup sehari-hari. Harapan kami harganya bisa naik kembali  seperti dulu,” harapnya.

Dengan turunnya harga beberapa komoditi pertanian tersebut membuat masyarakat Aceh Selatan khususnya di Desa Manggamat yang berada di Kecamatan Kluet Tengah  kewalahan karena umumnya mata pencaharian mereka adalah bertani. Hanya beberapa persen saja masyarakat setempat yang berprofesi sebagai pegawai negeri atau pun profesi lainnya. (eva)

Siswa SMAN Kluet Tengah Siap Ikuti Ujian Nasional

By: Redaksi KluetMedia on Jumat, Maret 29, 2013 / comment : 0 ,

KLUET TENGAH - Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Kluet Tengah, Aceh Selatan yang baru berdiri sejak tahun 2006 silam telah mencetak empat generasi hingga tahun ini dan rata-rata lulusan setiap tahun terus meningkat.

Demikian ungkap Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Kluet Tengah Drs Amrin di ruang kerjanya, Rabu (27/03/2013).
Ia menambahkan, siswa lulusan di sekolah yang ia pimpin setiap tahunnya meningkat tajam dan lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi juga meningkat dari generasi pertama hingga sekarang.

“Generasi pertama tahun 2008/2009 yang hanya 40 persen yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan tahun 2011/2012 lalu meningkat menjadi 60 persen. Tentu persentase tersebut menjadi ukuran dari peningkatan mutu pendidikan di SMAN 1 Kluet Tengah,” jelasnya.

Ditanyai tentang kesiapan siswa SMAN 1 Kluet Tengah untuk mengikuti ujian nasional (UN) pada pertengahan April mendatang, ia mengaku seluruh siswanya sudah siap untuk ujian akhir tersebut dan pihak sekolah juga telah mempersiapkan apapun keperluan siswanya.

“Persiapan yang telah dilakukan untuk menghadapi ujian akhir antara lain Try Out dan jam pelajaran tambahan bagi siswa,” ungkapnya.

Tujuan dari dilaksanakannya semua kegiatan dalam rangka menghadapi ujian akhir ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa dan ia yakin kelulusan SMAN 1 Kluet Tengah untuk tahun ajaran ini juga akan bertambah persentasenya.

Diluar konteks UN, Drs Amrin juga memberitahukan bahwa siswanya tahun ini mendapat kesempatan untuk mengikuti Olimpiade Sains 2013 di Tapak Tuan pada awal April mendatang. “Dari ajang tersebut tentunya siswa juga akan lebih percaya diri dalam berkompetisi dalam dunia pendidikan,” pungkasnya. (de/AL)

Petani Kluet Tengah Gagal Panen

By: Redaksi KluetMedia on Jumat, Maret 08, 2013 / comment : 0 ,

KLUET TENGAH - Ratusan hektare tanaman padi milik penduduk Gampong Simpang Tiga Kecamatan Kluet Tengah, pedalaman Aceh Selatan, dilaporkan Rabu (6/3), rusak parah akibat kekeringan berkepanjangan sehingga gagal panen. Dampaknya, petani di sana kehilangan ribuan ton gabah kering giling (GKG) yang bisa dijual dengan harga Rp4.600/kg.
Tokoh pemuda Kluet Tengah, Mukhtar (29), Rabu (6/3), menerangkan, kerusakan tanaman padi hingga tidak bisa menghasilkan padi itu, akibat kekeringan berkepanjangan menyusul matinya keringnya saluran air untuk memasok air ke areal persawahan mereka. "Masalah yang dikhawatirkan sebelumnya sudah terjadi di mana tanaman padi tidak akan berhasil berbuah," katanya.

Diungkapkan, keringnya saluran air di sepanjang pemukiman Simpang Tiga hingga Malaka Meunggamat itu, setelah adanya aktivitas eksploitasi bijih besi oleh PT Pinang Sejati Utama (PSU) Tapaktuan pimpinan Hj Latifah Hanum.

Dengan demikian, petani sawah dan peladang di kawasan Meunggamat sejauh ini tidak bisa lagi menggunakan lahan pertaniannya karena sudah kering kerontang. Tanaman padi yang selama ini menghijau, kini memerah dan kering kerontang.

Direktur PT PSU, Latifah Hanum, Kamis (7/3), gagal dihubungi melalui telepon karena ponsel yang bersangkutan dalam keadaan tidak aktif.

Sementara, Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Aceh Selatan, Ir Darman MM, yang dikonfirmasi Analisa menyatakan, "Bila demikian, sangat kita sesalkan karena petani tidak dapat menikmati hasilnya." (m/ANL)

Akibat Erosi, Koto Indarung dan Lawe Sawah Terancam

By: Redaksi KluetMedia on Jumat, Maret 01, 2013 / comment : 0 ,

KLUET TENGAH -  Dua perkampungan warga di pedalaman Aceh Selatan yakni Gampong Koto Indarung, Kluet Tengah dan Gampong Lawesawah, Kluet Timur terus menerus dihantam erosi Krueng Kluet/Kandang dan Lawe Mungkap, sehingga dikhawatirkan dapat amblas ke dasar sungai yang bermuara ke Samudera Indonesia itu.

"Oleh karena itu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan dapat segera menanggulanginya agar ancaman itu tidak menjadi kenyataan," kata tokoh masyarakat setempat Marzuki (39) di Tapaktuan, Kamis (28/2), via telepon.

Menurutnya, hantaman arus sungai ke lahan pemukiman warga di Koto Indarung itu sudah berlangsung beberapa tahun lamanya, namun sejauh ini belum ada upaya penanggulangannya.

Diungkapkan, kondisi saat ini bahkan semakin parah di mana hanya tinggal beberapa meter lagi arus Krueng Kluet/Meunggamat memotong perkampungan tersebut. "Jika areal itu terpotong oleh arus sungai maka dampaknya adalah ke pemukiman warga Gampong Lawesawah," katanya.

Tanggul Pengaman

Melihat kondisi alam itu, ujarnya, pembangunan tanggul pengaman merupakan salah satu cara mengatasi hantaman sungai yang berarus deras itu. Demikian pula terhadap pemindahan arus sungai menjadi salah satu bentuk upaya penanggulagan erosi tersebut.

Bila penanggulangannya segera dilakukan, maka ribuan warga di dua pemukiman itu dapat hidup nyaman serta ribuan hektar areal perkebunan, pertanian dan persawahan akan dapat diselamatkan.

"Saya berharap agar Pemkab Aceh Selatan menggandeng Pemprov Aceh untuk bersama-sama menanggulanginya demi keselamatan, kesejahteraan warga dan kelestarian pemukiman sert lahan pertanian dan perkebunan warga," katanya.

Dia juga mengharapkan agar pihak terkait segera membantu petani untuk melakukan pembersihan areal persawahan penduduk Gampong Koto Indarung yang terkena arus banjir bandang, beberapa waktu lalu. "Tunggul kayu masih berserakan di atas batang padi yang mulai memburas," katanya.

Gampong Koto Indarung berpenduduk sekitar 7000-an jiwa dengan mata pencarian petani/pekebun. Sedangkan Gampong Lawesawah berpenduduk sekitar 2000-an jiwa yang juga dominan sebagai petani/pekebun.(de/m)

Areal Sawah di Koto Indarung Tertimbun Lumpur dan Kayu

By: Redaksi KluetMedia on Senin, Februari 18, 2013 / comment : 0 ,

KLUET TENGAH - Petani Koto Indarung Kluet Tengah Aceh Selatan mengharapkan pihak terakit dapat membantu pembersihan areal persawahan mereka yang tertimbun lumpur serta tunggul kayu pasca banjir yang melanda areal persawahan penduduk, belum lama ini.

Areal persawahan milik puluhan petani Gampong Koto Indarung itu dilaporkan hancur setelah diterjang banjir sehingga tunggul-tunggul kayu hasil penebangan di hulu Sungai Krueng Kluet/Meunggamat berserakan.

Tokoh masyarakat Gampong Koto Indarung, Marzuki, Kamis (14/2) mengatakan, areal persawahan yang disapu banjir tersebut menyisakan tunggul kayu dan timbunan lumpur akibat banjir.

"Di hamparan sawah itu kini terlihat tumpukan tunggul kayu dan lumpur sehingga perlu dibersihkan agar dapat dimanfaatkan kembali. Kami berharap pihak terkait dapat membantu membersihkannya," katanya.

Dia tidak menjelaskan secara rinci berapa kubik sisa kayu dan lumpur yang menimbun tanaman padi petani itu, namun diperkirakan mencapai puluhan ton di areal seluas sekitar 15 hektare itu.

Diungkapkan, pihaknya bersama pimpinan gampong (desa) serta petugas sosial setempat sudah menyampaikan peristiwa itu ke pihak terkait tingkat kabupaten guna diatasi. Kepala BPBD Aceh Selatan, Drs Masdi MM, gagal dihubungi melalui ponselnya yang dalam keadaan padam, Jumat (15/2).

Namun, seorang stafnya membenarkan badan ini sudah menerima laporan bencana alam itu. "Sejauh ini belum tindakan apa-apa, tetapi laporan sudah kami terima menyangkut bencana itu," katanya. (m/de)

Mantan Keuchik Gampong Mersak Hilang

By: Redaksi KluetMedia on Minggu, Desember 30, 2012 / comment : 0 ,

Menggamat – Yusri, mantan Keuchik Gampong Mersak Kecamatan Kluet Tengah sejak tiga hari yang lalu hilang dan hingga berita ini diturunkan Tim Tagana (Tanggap Bencana – red) Kluet Tengah, Kluet Timur dan Kluet Selatan yang dibantu oleh masyarakat setempat masih melakukan pencarian dilokasi yang diduga tempat semula mantan keuchik tersebut hilang.

Seperti yang dituturkan oleh Yurliadi Pulkand, koresponden KluetMedia kepada redaksi melalui e-conference. Kejadian bermula tatkala Yusri berangkat dari rumah tanpa sepengetahuan keluarganya dan hingga sore belum kembali. Hal ini membuat keluarga resah menunggu dirumah. Pihak keluarga pun mencari tahu pada tetangga, namun keberadaan mantan keuchik itu tidak seorangpun mengetahui. Kemudian keluarga melaporkan kepada Keuchik Gampong Mersak dan meneruskannya pada tim Tagana untuk bersama – sama mengadakan pencarian.

Pada hari kedua, masyarakat menemukan seperangkat alat penangkap ikan yang dikenali sebagai kepunyaan mantan keuchik yang hilang. Alat penangkap ikan tersebut ditemukan di sekitar Jambo Teka Gampong Mersak yang biasa digunakan untuk penyeberangan ke Koto Indarung. Disinyalir bahwa mantan keuchik tersebut hanyut di sungai.

Hingga hari ketiga, tim Tagana yang dipimpin oleh Mauliza Fadli masih melakukan penyisiran dilokasi tempat ditemukan alat penangkap ikan tersebut dan disepanjang sungai. Namun mantan keuchik gampong Mersak masih belum ditemukan. (de/yp)